Kekuatan CInta

Oleh Bayu Gawtama

Si kecil masuk ke rumah sambil meringis, tangannya memegangi lututnya yang terluka. Rupanya ia baru saja terjatuh dari mobil-mobilannya. Dan seperti biasa, ia akan melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya kepada saya, meski dengan bahasa lisan bercampur dengan bahasa tangan. Dari wajahnya saya bisa melihat rasa sakit yang dirasakannya. “Sini Abi sembuhkan sakitnya ya…”

Dengan sentuhan lembut penuh cinta, saya mengusap bagian lututnya yang luka. Ia meringis kesakitan, tapi buru-buru saya kecup lukanya dan sambil mengatakan, “Bismillaahirrahmaanirrahiim, sembuh deh. Sakitnya hilang kan? Bisa main lagi deh…” Ajaib! Ia tersenyum meski wajahnya masih sedikit menyeringai. Saya yakin rasa sakitnya masih terasa, namun kekuatan cinta yang sudah saya alirkan melalui sentuhan dan kecupan di lukanya membuat ia yakin bahwa lukanya memang sudah sembuh. Terbukti, ia pun bermain lagi seperti biasa. Jika ia terjatuh lagi, ia sudah tahu kemana akan mencari dokter ajaibnya.

Waktu hari pertama sekolah beberapa tahun lalu, si sulung tak berani masuk kelas. Ia mematung persis di depan kelas, seolah kakinya terpaku sangat kuat disitu dan tak beranjak maju. Kemudian isteri saya mendekapnya dan mendaratkan kecupan di keningnya. Ia tahu apa yang harus dilakukannya, “Bismillaahirrahmaannirrahiim, sekali cium saja anak Ummi pasti lebih hebat dari semua yang ada di dalam kelas. Yak an?” Seperti dihipnotis, puteri kecil kami melangkah masuk dengan tenang, mengambil kursi paling depan. Wajahnya bersemangat, kedipan matanya menandakan ia sangat siap hari itu. Kami melihat ia begitu yakin bisa melewati hari pertamanya, karena kami telah tanamkan energi cinta melalui kecupan hangat di pintu masuk kelas tadi.

Pernah anak saya pulang dari sekolah dengan wajah muram, “mungkin ada masalah di sekolahnya…” gumam saya. Berikan ia waktu sebentar untuk menenangkan diri, namun tak boleh terlalu lama ia memendam masalahnya. Saya saling lirik dengan isteri untuk memberi isarat siapa terlebih dulu untuk masuk ke kamarnya, tidur di sisinya sambil mencari tahu penyebab wajah muramnya. Hanya masalah kecil memang, tetapi jika ia tidak mendapatkan siapa-siapa untuk sekadar mencurahkan perasaannya, maka ia akan mencari “sosok lain” yang dianggap mau mendengarkannya.

Anak-anak yang memasuki usia remaja, mulai mengenal “sosok lain” dari orang tua. Siapapun akan menjadi pengganti orang tuanya asalkan mau mendengarkan. “Sosok lain” itu bisa berupa seseorang atau sesuatu. “Galau” adalah tema paling trend di media sosial, dengan harapan mendapatkan sekadar perhatian dari sosok lain. Saat itulah peran orang tua mulai tergantikan, anak-anak tak lagi membutuhkan perhatian orang tua secara penuh karena ada sosok lain yang bisa memberikannya. Sesuatu yang selama ini kosong tak terisi, alpa oleh kesibukan orang tua, kini terisi sudah.

Karenanya, kami tak membiarkan anak-anak merasa kehilangan sosok orang tua sehingga tak perlu mencari sosok lain di luar lingkungan rumah. Masalah kecil bisa menjadi besar bagi anak-anak remaja yang baru mengenal hal-hal baru dalam kehidupannya. Sekadar duduk atau berbaring di sisinya, dengan segenap hati mendengarkan segala keluh dan curahan hatinya, ternyata mampu memberi kekuatan luar biasa hebat. Memberinya satu keyakinan bahwa sebesar apapun masalah yang akan dihadapinya, ada orang tua yang siap memberinya kekuatan untuk mampu melewatinya. Saya melihat isteri membelai rambut anak kami, sambil mendengarkan curahan hatinya. Meski tak menjawab dengan banyak kata, tetapi belaian lembut ibunya telah merasuk ke seluruh tubuh dan hatinya, tak ada lagi muram di wajahnya.

Perhatian, sentuhan, belaian lembut kepada orang-orang yang kita cintai adalah aliran energi cinta yang akan memberinya semangat, kekuatan, dan keyakinan bahwa ia mampu melewati apapun yang merintangi jalannya. Bukan sulap bukan sihir, namun ini terjadi. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengalirkan kekuatan-kekuatan itu, meskipun tetap bersarat. Saratnya, kita melakukannya dengan setulus hati nan penuh cinta.

Saya tak perlu menjadi pesulap, tak harus menguasai kekuatan super, atau bertapa empat puluh hari untuk mendapatkan kekuatan maha dahsat itu. Saya telah mendapatkannya secara turun temurun sejak kecil. Ketika saya terjatuh kesakitan atau dipukul teman bermain, tiba-tiba berubah menjadi sosok tegar yang sangat kuat setelah mendapat kecupan dari ibu. Atau ketika bisikan hangat dan usapan lembutnya di kepala saya membuat diri ini sangat percaya diri memasuki kelas pertama sekolah dasar. Waktu saya sakit, obat terhebat yang membantu menyembuhkan adalah perhatian dan kasih sayang ibu. Ia membasuh keringat dan membersihkan kotoran yang tak berdaya diri ini melakukannya sendiri. Saya tahu ibu bisa tak tidur berhari-hari menunggu pangerannya sembuh. Segenap energi luar biasa dialirkan ibu setiap saya menyandarkan kepala di pangkuannya, lalu tangan ibu mengusap halus punggung saya.

Kini, kekuatan cinta itulah yang selalu saya alirkan kepada anak-anak setiap kali mereka mendapati masalah, sebesar apapun. Dan ketika saya kehabisan kekuatan untuk bisa menghadapi ujian kehidupan sendiri, maka saya hanya perlu mengunjungi ibu. Mengecup keningnya, kemudian meminta izin untuk menyandarkan kepala ini di pangkuannya. Tanpa diminta ibu akan mengusap kepala dan punggung saya, sebuah ritual pengaliran kekuatan cinta. Kepala ini berbantal kakinya, lalu tangannya yang sudah mulai keriput masih terus mengusap kepala dan punggung ini. Kelembutannya masih sama dengan sentuhan beberapa puluh tahun lalu. Kehangatan merasuki sekujur tubuh, saat tahu bahwa ibu masih seperti dulu, tak pernah absen menyebut semua nama anak-anaknya dalam doanya.

Di pangkuan ibu, saya memang selalu menjadi pangeran kecilnya. Selalu butuh sentuhan lembutnya, selalu minta dialiri doa-doanya, kemudian mendapatkan kekuatan untuk bisa menjalani berbagai ujian hidup. Satu harap, semoga anak-anak saya pun mengerti kemana mereka harus mencari kekuatan cinta saat mereka membutuhkannya. Saat dewasa nanti, mereka akan tahu darimana saya mendapatkan semua kekuatan itu. (Gaw)

 

Eramuslim | Forteens

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s