Hikmah: Terlalu Ketat Hemat Listrik

Kenaikan harga buat keluarga sudah seperti air dengan wadahnya. Kian tambah isi air, wadah pun tak lagi bisa menampung. Suatu saat, air akan tumpah dan mencari-cari wadah yang baru.

Keluarga mana pun takkan rela kalau harga kian melambung tak terjangkau. Terlebih jika harga menyangkut sesuatu yang penting. Listrik, misalnya. Jika kenaikan tak lagi bisa dihindarkan, mau tidak mau, penghematan jadi pilihan yang paling sederhana.

Di masa Rasulullah saw., aksesoris kebutuhan tentu tidak seperti sekarang. Waktu itu, kebutuhan hanya berputar pada sesuatu yang pokok. Belum ada pulsa telepon, gas, apalagi listrik. Sehingga, tidak pernah ada kisah sahabat Rasul yang pusing dengan kenaikan tarif listrik seperti sekarang ini. Seperti yang saat ini dialami Bu Hani.

Continue reading

Pendidikan Anak

Mendidik anak kadang mirip mengasah sebuah pisau. Butuh ketelitian dan kehati-hatian. Kalau tidak, bukan sekadar pisau yang akan menjadi tajam; tangan pun bisa luka tergores.

Setiap ibu ingin punya anak yang saleh. Taat pada Allah, bakti sama orang tua. Kalau anak bisa seperti itu, ibu mana pun akan senang. Selain karena sukses menunaikan amanah Allah, kelak di masa tua pun bisa menenteramkan.

Namun, tidak semua keinginan baik punya jalan gampang. Karena anak bukan seperti mainan lilin yang bisa dibentuk cuma dengan gerakan jari tangan. Ada hal lain yang harus diperhatikan. Butuh kesabaran, juga keteladanan. Hal itulah yang kini dirasakan Bu Cici.

Continue reading

Kekuatan CInta

Oleh Bayu Gawtama

Si kecil masuk ke rumah sambil meringis, tangannya memegangi lututnya yang terluka. Rupanya ia baru saja terjatuh dari mobil-mobilannya. Dan seperti biasa, ia akan melaporkan kejadian yang baru saja dialaminya kepada saya, meski dengan bahasa lisan bercampur dengan bahasa tangan. Dari wajahnya saya bisa melihat rasa sakit yang dirasakannya. “Sini Abi sembuhkan sakitnya ya…”

Dengan sentuhan lembut penuh cinta, saya mengusap bagian lututnya yang luka. Ia meringis kesakitan, tapi buru-buru saya kecup lukanya dan sambil mengatakan, “Bismillaahirrahmaanirrahiim, sembuh deh. Sakitnya hilang kan? Bisa main lagi deh…” Ajaib! Ia tersenyum meski wajahnya masih sedikit menyeringai. Saya yakin rasa sakitnya masih terasa, namun kekuatan cinta yang sudah saya alirkan melalui sentuhan dan kecupan di lukanya membuat ia yakin bahwa lukanya memang sudah sembuh. Terbukti, ia pun bermain lagi seperti biasa. Jika ia terjatuh lagi, ia sudah tahu kemana akan mencari dokter ajaibnya.

Continue reading