Sahabat Sang Nurani – Teman Sejati

Suatu saat, kuminta nasehat pada seorang sahabat
Aku merasa tak layak akh, katanya

Aku tersenyum dan berkata
Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
Sungguh di dunia ini tak ada lagi
Orang yang layak memberi nasehat

Continue reading

Advertisements

Kembalikan Indonesia Padaku

Puisi Taufiq Ismail

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan
Indonesia
padaku

***

Profil Singkat Taufiq Ismail:

Lahir di Bukittingi Sumatera Barat 25 Juni 1935. Antologi bersamanya adalahManifestasi (1963). Kumpulan puisinya: Tirani (1966), Benteng (1966), Buku Tamu Musium Perjuangan (1969), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit (1971), Sajak Ladang Jagung (1973),  Kenalkan Saya, Hewan(sajak anak-anak, 1974), Puisi-puisi Langit (1990). Bersama D.S. Moeljanto dia menyusun Prahara Budaya (1995). Taufiq Ismail yang juga tokoh sastra Angkatan 66 ini adalah penerima Anugerah Seni (1970), Australian Cultural Award (1977) dan South-East Asia Write Award (1994).